Sahabatku, Sahabat Bunda

Suatu hari saat Kheiza menikmati masa pertama sekolahnya, Bunda sempat bertanya siapa nama teman terdekat? adakah teman yang tidak “mayak” di kelas? Nyaman ga dengan teman-teman yang baru ini? berbagai pertanyaan seputar itu sering Bunda tanyakan ke Kheiza. Kekhawatiran itu muncul karena seringnya Kheiza selalu dipaksa mengalah saat dia bergaul dengan temannya.

” Diah Bunda. Namanya Diah pakek huruf i bukan y ” jawaban itu yang terlontar tiba-tiba suatu hari.

Kheiza bercerita mempunyai teman yang sering bersamanya dan berbagi. Dia juga mengatakan bahwa temannya itu bernama Diah, sama seperti nama teman Bunda. Tapi temanku ini pakek huruf- i , dan Kheiza mulai mengejanya ” D-I-A-H”. Temenku juga sama seperti temen Bunda, badannya kecil wajahnya mirip. Seperti temen Bunda, tante Dyah.

Bunda tersenyum… bukan hanya karena mendengar ceritamu ini, tetapi lebih karena Bunda teringat sosok sahabat Bunda yang bernama Dyah. Penasaran setiap kali saat Kheiza bercerita tentang teman satunya ini. Selalu dia menekankan mirip teman Bunda. Apa semirip itukah wajahnya? sampai-sampai kamu selalu meyakinkan Bunda?

” Nanti aku kenalin deh Bun! ke sekolah yaaa “

Dan hari itupun tiba… saat sekolah mengadakan Imunisasi Campak Bunda sempetin datang untuk lihat kegiatannya seperti apa. Saat itu lah kamu memanggil teman specialmu itu nak dan memperkenalkannya ke Bunda.

” Ini Diah bun… persis khan? ” sambil tertawa kecil dan senyum malu-malu kamu membawa Diah yang juga lebih malu-malu lagi saat melihat Bunda.

Wajahnya tirus, senyumnya manis, tinggi hampir sama denganmu nak. Mungkin itu kesan pertama Bunda saat melihat teman specialmu ini. Diah pakek huruf i bukan huruf y. Bunda tersenyum melihat kalian berdua malu-malu dihadapan Bunda. Polos banget kalian ini. hahaha. Bunda foto yaaa… nanti coba Bunda samain dulu yang mirip apanya ya nak? hehehe.

Kheiza dan Diah

“Dyah Puspita Sari” itu nama sahabat Bunda yang kamu bilang mirip temanmu. Tante Dyah biasa kamu memanggilnya. Sahabat Bunda satu ini punya arti special di hati Bunda. Berteman mulai dari SMA sampai sama-sama punya anak yang cantik, Alhamdulillah bisa selanggeng itu. Tak ada yang special dari persahabatan Bunda dengan Dyah. Seperti sahabat pada umumnya yang bercerita tentang suka duka, bertemu di sela-sela waktu, tersenyum saat yang lain senang, sedih dan ikut prihatin saat yang lain terpuruk.

Tak ada barang “couple” atau apalah itu yang menandakan persahabatan ini. Termakan waktu dan kesibukan, malah kadang tak sempat menanyakan kabar masing-masing. Hanya memori yang bisa di ingat dan di kenang, semua akan terasa manis pada awal dan akhirnya.

Yang kamu tahu, tante Dyah sudah di surga. Yang Bunda katakan, tante Dyah sudah tidak disini. Tidak bisa jalan-jalan bareng lagi ke Kebun Binatang atau main ke rumah seperti dulu. Lambat laun kamu akhirnya paham dan mengerti.

Hari ini, tepat setahun kamu pergi Dy…. Masih terasa banget kenangan liburan terakhir ke malang yang kamu minta. Masih tersimpan foto selca kita sebelum kamu masuk ke ruangan itu. Masih terasa sepi tanpa sapaanmu yang hampir tiap hari untukku. “lagi apa say? heh lapo? wes mangan tah? nang ndi kowe ?”. Masih dan masih sangat ingat semua kenangan tentangmu.

Apa kabarmu disana sahabat? sungguh sangat rindu dengan sapaanmu itu. Maaf, karena belum sempat mengunjungimu lagi. Hanya bisa mendoakanmu dari jauh. Insyaallah Jannah tempatmu disana. Rindu kamu….

Bunda dan Dyah

Di hamparan bintang yang tak bisa aku sentuh
Aku melihatmu tersenyum
Menjadikannya sebuah lamunan
Kau berada dibalik sebuah tempat yang tak terlihat
Dalam kesedihan, kenyataan kau telah pergi jauh
Air mataku terjatuh lagi

vote data
comments powered by Disqus