Mr. Jo The Boogeyman

Miss Kheiza

“Bukk..bakk…bukk..”
suara pukulan keras dari tangan itu terdengar menyeramkan bagi anak kecil. Bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Tangannya tak henti-henti nya memukul. Tanpa bersuara sepatah kata pun dia terus berjalan. Melewati setiap rumah, mengamati sekelilingnya dan dengan matanya yang tajam sosok itu mencoba melihat ke arahku.
“Bukk..bakk…bukk…”
Kali ini suara itu mendekat dan terus mendekat. Semakin keras dan semakin keras. Suara-suara itu bisa membuat suasana siang bolong seperti ini menjadi mencekam. Detak jantung serasa berirama lebih cepat, memandangnya saja pun seakan tak berani.
“Bukk..bakk…bokk…”
Lalu tiba-tiba dia terdiam, memandangiku dengan dingin. Aku bisa melihat wajah yang tak terlihat sempurna tertutup oleh sesuatu yang sangat besar diatas kepalanya. Perlahan-lahan sosok itu mendekatiku, lalu dengan suara besarnya dia mencoba mengatakan sesuatu kepadaku.
“Bu, beli baknya Bu? yang kecil 15 ribu yang besar 25 ribu, beli ya Bu…”

——- THE END ————

Itulah sekilas cuplikan cerita si penjual bak plastik keliling yang lewat di depan rumah. Maunya sih cerita tentang si penjual bak plastik yang menjadi momok buat kheiza, ternyata jadinya sebuah prolog lebay lengkap dengan adegan yang ga jelas.

Siapa sih Mr. Jo itu? to the point sesuai judulnya aja yaa. Mr.Jo alias yang lebih dikenal Kheiza dengan nama Pak Jo ialah si tukang bak keliling yang selalu lewat depan rumah menjajakkan barang dagangannya. Awal-awal kemunculan “dia” yang tak tahu namanya ini (karena belum pernah kenalan :D), terjadi saat Kheiza masih sekitar umur 2 tahun. Waktu itu Bunda masih belum jadi Ibu Rumah Tangga yang anteng terus nge blog dirumah. hehehe. Jari jemari masih Bunda gunakan untuk membuat laporan keuangan, surat menyurat dan ngerjain pajak alias kerja ikut orang.*hiks.

Gara-gara Bunda jadi wanita karier di kantor..*cieee. Kheiza pun terpaksa dijaga dan di asuh sama Yangti nya. Ada saat-saat dimana Kheiza susah sekali untuk diajak tidur siang. Bawaannya main mulu, walopun cuman main sendiri dirumah dengan segala imajinasinya. Menggendong si dd boneka, menyuapinya dengan piring kosong, dan menidurkan si dd dalam gendongan. Ada aja hal-hal yang buat Kheiza ga mau tidur siang. Pasti diantara Bunda pernah mengalami hal yang sama bukan? merayu si kecil agar mau tidur siang dengan berbagai cara itu sangatlah syusyah.

Siang itu juga Kheiza masih asyik bermain. Yangti sudah kehabisan cara untuk membujuk Kheiza agar mau bobok cantik seperti tante Syahrini. Lalu terdengar suara pukulan keras yang berulang-ulang. Suara seperti orang marah yang memukul sesuatu. Kheiza jadi diam dan menghentikan mainanya. Moment ini akhirnya dibuat senjata sama Yangti *hadeh…
“Lho..ada pak Jo datang Khei…”
Kheiza yang ga tahu apa itu pak Jo, siapa itu pak Jo jadi takut dan bingung. Dia kaget mendengar suara pukulan keras itu. Lalu saat melihat Kheiza yang takut, Yangti akhirnya bergegas mengajak tidur dengan alasan biar pak Jo si bapak penjual bak plastik itu pergi. Alhasil nama pak Jo menjadi nama yang menakutkan buat Kheiza. Kedatangannya bisa menjadi momok di siang hari nya Kheiza.

Ketakutan Kheiza dengan pak Jo ini yang membuat Bunda sangat sedih. Andai saja Bunda tidak kerja dan menitipkan pengasuhan Kheiza pada Yangtinya, mungkin Yangti tidak serepot itu bergelut dengan kepusingan mencari cara menidurkan Kheiza.

Pola asuh menakut-nakuti anak memang tidak benar dan tidak dianjurkan. Ini bisa menimbulkan dampak yang berkepanjangan untuk tumbuh kembang anak. Kheiza pun demikian, apalagi sosok pak Jo ini ada dimana-mana. Di rumah Yangti Surabaya dia sering lewat, main ke rumah saudara di Sidoarjo juga pernah ketemu, main ke rumah Yangti Malang ada juga tuh pak Jo, bahkan saat pergi ke Bogor rumah nenek buyut pun sosok pak Jo ga pernah absen. Inilah yang membuat Kheiza mempunyai kesan kalau pak Jo akan hadir kalau dia tidak jadi anak manis. Satu kesalahan kecil yang berdampak besar.

Kalau sudah begini… Bunda berusaha memberikan pengertian tentang sosok pak Jo. Mengatasi rasa takutnya ketika pak Jo lewat depan rumah. Memang secara visual si pak Jo ini kesannya menakutkan banget… berjalan sambil memukul keras-keras dengan bak besar dikepalanya. Agak susah si Kheiza mempercayai kalau pak Jo aman-aman aja bagi dia. Karena setiap kali lewat, si pak Jo selalu sukses bikin jantung copot dengan pukulan kerasnya itu. Untungnya ketakutan Kheiza tidak sampai berlebihan, tidak sampai membuatnya mimpi buruk di malam hari atau menangis keras ketika pak Jo melintas di depan rumah.

Semakin bertambah usia Alhamdulillah dia sudah paham kalau pak Jo itu pedagang bak plastik dan bukan sosok yang akan menangkap anak-anak yang nakal. Sekarang kalau Bunda godain dengan nama pak Jo Kheiza ketawa malu-malu sendiri. Sepertinya dia sudah sedikit berdamai dengan sosok pak Jo. Sekarang Bundanya yang penasaran, kenapa bapak penjual bak plastik ini menjajakkan barang daganganya dengan cara seperti itu? Ada yang tahu? si bapak selalu memukul keras bak plastik layaknya seperti orang marah, andai saja bisa direquest pukulan itu menjadi tabuhan irama dangdut mungkin kesannya tidak menyeramkan kali ya? Ada juga tuh penjual alat-alat rumah tangga keliling yang nyetel musik dangdut kenceng banget, di siang hari pula.*beuh… kalau kedua penjual ini datengnya bebarengan, yakin deh suasana siang jadi kayak malam tahun baru yang rame. Bedanya sih kalau yang ini bukan suara petasan, melainkan suara pukulan bak dan radio musik dangdut.

Dan minggu lalu… tiba-tiba aja Bunda mendengar suara pukulan-pukulan keras itu lagi. Suara yang sudah hafal bin khatam banget didengarnya.
“Bukk..bakk…bukk…”
Aaaaaa tidak…. !!!! ternyata pak Jo sudah sampai di pulau ini.
“Bukk..bakk…bukk…”
suara itu lagi…suara itu lagi…
dan nampaklah sosok si Mr. Jo ini

Mr. Jo

vote data
comments powered by Disqus